Cerita Pulang Kampung - Part 1 Pantai Menganti

pantai menganti
Pasir putih pantai Menganti kapal nelayan berjajar
Liburan Paskah kemarin memang kami sempatkan untuk pulang ke kampung saya walau sebentar. Si boscil sangat excited berkunjung ke rumah Opa dan Omanya di Gombong Kabupaten Kebumen Provinsi Jawa Tengah. Kalau versi boscil, dia sangat ingin ke Gombong karena disana dia bebas memberi makan ikan dan burung peliharaan sang Opa. Memang si Opa memelihara ikan di empat tempat yang berbeda, 3 kolam ikan berisi ikan jenis nila dan lele, dan sebuah aquarium berisi ikan jenis mas kecil. Ketika ditanya 'kenapa suka kasih makan ikan?, jawabnya: 'ikannya rebutan makan,' *sambil terkekeh-kekeh tertawa lebar...

Kalau saya lebih ke nostalgia kuliner. Entah mengapa sejak menikah dan tinggal menetap di Tangerang, kerinduan akan menyantap masakan makanan kampung halaman sering kali hinggap di benak dan menanti kapan terealisasi menyantapnya. Dan ketika 'pulang kampung' di acc si papa, waktu terasa lama sekali menunggu hari H terlaksana. ^_^.

Ketika jaman sekolah dulu setiap pagi papa saya selalu menyiapkan sarapan. Sarapan itu bukan dari hasil masakannya ataupun masakan mama, sarapan itu hasil dia beli ke sebuah warung di sekitaran kota Gombong tempat tinggal kami. Terkadang kalau sudah bosan dengan menu di warung A, papa akan membelikan jenis masakan yang berbeda di warung B, dan begitu seterusnya ke warung C, warung D, dan lainnya. Karenanya walaupun mama saya tidak jago untuk urusan dapur, papa selalu punya cara agar anggota keluarganya bisa kenyang. ^_^. 

Air pantai yang jernih berwarna hijau biru
pantai menganti
Makanan yang sering dibeli papa dulu ini menjadi sebuah kekangenan tersendiri buat saya walaupun menunya sungguh sangat sederhana. Menikmati masakan yang dijual di kampung membuat saya teringat kembali masa-masa nikmat sekolah dulu. Ya saya menghabiskan masa kecil saya di kampung dari lahir sampai SMA. Jadi memang masakan dan jajanan khas menjadi icon yang tak pernah terlupa ketika saya merantau dan tidak lagi menjadi warga kampung Gombong.

Masakan daerah saya yang sering di beli papa untuk sarapan di setiap pagi hari sungguh sangat murah bila dibandingkan dengan harga di Tangerang ataupun Jakarta sekalipun. Sebungkus nasi plus sayur tempe dihargai dua ribu rupiah saja. Lauknya tempe mendoan seribu sudah plus sambal bawang dan tinggal ditambah kecap saja yang juga free. Sayangnya saya lupa untuk mengabadikan sebungkus nasi rames dan mendoan itu teman, setiap pagi disana selalu kelaparan dan tak ingat lagi yang lain. ^_^

pantai menganti
Batu batu pemecah ombak
Akhirnya hari H pun tiba. Kami bertiga berangkat pukul tiga sore dari rumah menuju stasiun Cisauk stasiun commuter line untuk mengantarkan kami menuju stasiun Pasar Senen. Ya, kami menggunakan jasa kereta api untuk membawa saya, si papa, dan si boscil pulang ke kampung halaman saya di Gombong. Kereta kami bernama Sawunggalih yang berhenti di stasiun Gombong, dengan tujuan akhir stasiun Kutoarjo. Sebenarnya si papa request kereta eksekutif, tapi berhubung sekarang tidak ada kereta jenis eksekutif yang singgah di stasiun Gombong ya sudah deh, kami naik kereta Bisnis Sawunggalih saja. Walaupun kereta bisnis, sekarang ini kondisi gerbong sangat bersih dan nyaman dengan AC yang terpasang disetiap 5 jajar tempat duduknya. Jadi satu gerbong kereta bisnis ada beberapa buah AC yang mendinginkan gerbong kereta. Saya kemarin memesan kereta api ini menggunakan situs resmi PT.KAI (tiket.kereta-api.co.id). Tinggal pesan, bayar melalui transfer ataupun bayar di Indomaret, mendapatkan kode booking, dan ketika sampai di stasiun tinggal di print tiket di tempat khusus print mandiri. Gampang, gak lagi repot antri di stasiun demi mendapatkan tiket. Memang seharusnya ya setiap tahun ada perbaikan pelayanan publik yang disediakan pemerintah untuk semakin memudahkan para masyarakatnya agar negara kita tidak semakin tertinggal dengan negara-negara yang lain.
pantai menganti

Berangkat dari stasiun Pasar Senen pukul 6 sore waktu tepat. Dan kemarin hampir saja kami ketinggalan kereta. Selisih waktu 5 menit saja kami pasti sudah ditinggal kereta. Hmm, gak lagi-lagi deh berangkat dengan waktu mepet. Kemarin kami memang agak sedikit terlambat untuk berangkat dari rumah, baru keluar jam 3 sore, dan kami harus ke Tanah Abang dahulu lalu pindah kereta menuju ke Jatinegara-Pasar Senen. Dan ini yang membuat saya dan si papa deg-deg syurrr, karena setelah sampai stasiun Cisauk kami sudah ketinggalan kereta, menunggu sekitar 20 menit. Sampai di Tanah abang kebetulan kami juga ketinggalan kereta lagi, jadi harus menunggu lagi kurang lebih 20 menit lagi. Duhh, kapok deh, next kalau mau pulang kampung lagi kami harus sudah keluar rumah jam 2 siang.
pantai menganti
Dan apa kabar si boscil? Dia sungguh anak yang hebat. Walaupun menunggu kereta itu merupakan sebuah kegiatan yang sungguh melelahkan, ditambah suasana stasiun yang panas namun si boscil tidak ada mengeluh sedikitpun. Meskipun sesekali dia berujar 'Ma, panas ya, ma, capek ya' tapi sama sekali tidak pernah merengek ataupun sampai menangis. Saya juga berusaha mengalihkan aktifitasnya agar dia tidak bosan. Dan sesampai di stasiun Pasar Senen kami mengajaknya berlari berlomba masuk ke gerbong kereta dan itu membuatnya semakin senang diajak bertualang menggunakan kereta api.

Setelah masuk ke dalam gerbong dan menemukan tempat duduk kami, rasanya lega sekali. Capek, sedikit kesal karena rasanya mau ketinggalan kereta, tapi puas karena kami akhirnya sampai tepat waktu. 5 menit kami duduk dan kereta pun berangkat mulai meninggalkan kota Jakarta membawa kami dan para penumpang lainnya ke tujuan masing-masing di Jawa Tengah.
pantai menganti
pantai menganti
Setelah duduk menikmati perjalanan beberapa menit, si papa mengeluh kedinginan. Dan, taaadaa, ternyata si papa tak membawa Jaket penangkal dingin padahal posisi AC ada persis di diatasnya. Yah, nasib si papa deh kedinginan semalaman, padahal jadwal kereta sampai di stasiun Gombong jam 00.30 WIB itu berarti harus kedinginan selama 6 jam. Kebetulan saya hanya membawa selendang tipis yang rencananya untuk selimut si boscil, tapi akhirnya dipakai papa untuk menyelimuti badannya yang kedinginan. Lumayan.

Kereta kami tepat waktu sampai di Gombong. Opa dan Oma si boscil sudah siap menjemput di stasiun. Lalu kami pulang bersama ke rumah masa kecil saya. Keesokan paginya karena sudah dijanjikan akan melakukan ritual setiap pagi, tak biasanya si boscil bangun pagi langsung turun dari tempat tidur dan menuju ke belakang rumah tempat tersedianya kolam ikan, lalu memanggil-manggil Opanya untuk segera membantunya memberi makan ikan. Ternyata dia cukup ingat ya kalau dia saat ini sedang berada dirumah Opa dan Omanya di Gombong. Dan tentu saja sungguh girang sekali hati Opanya, dengan sabar dan tersenyum meladeni setiap apa maunya si boscil. Duh, bak raja dia di rumah Gombong. Berlarian kesana kemari, meniup balon, meminta es krim kesukaannya, dan melahap camilan yang memang dijual di toko si Oma. Betah dia.
pantai menganti
Pasir putih
Tapi sayangnya ternyata si papa berujung pada demam. Alhasil kedinginan di kereta, dan makan malam yang terlambat membuat kekuatan tubuhnya menyerah. Selama tiga hari merasakan lemas badan, tidak terlalu nafsu makan kalau tidak dipaksa, dan sampai berganti obat 3 kali karenan demam yang tak kunjung turun, tapi syukurlah di hari ketiga badannya mulai pulih dan demamnya turun. Sehingga saya membatalkan janji ke dokter sore itu.

Di hari ke empat ketika badan si papa sudah pulih, kami memulai petualangan kami. Tujuan kami ke Pantai Menganti dan Pantai Ayah, dimana nanti di Pantai Ayah kami akan menikmati kuliner seafood yang terkenal di Gombong. Terkenal enak, dan terkenal sangat murah jika dibandingkan dengan penjual seafood di Jakarta.

Perjalanan menuju pantai Menganti
Laut Menganti dari atas bukit
Perjalanan dimulai ke arah selatan Gombong melewati jalan Karangbolong. Melewati berbagai desa, dan ketika jalan sudah mulai ekstrim menanjak dan berkelok kelok akhirnya kami sampai di desa Menganti. 
pantai menganti
Pintu Masuk Pantai Menganti
Bila dilihat dari atas bukit, pantai dan laut Menganti warnanya hijau bercampur biru bersih, dan jajaran perahu nelayan membuatnya sungguh indah berwana warni bak pelangi.
pantai menganti
Pantai Menganti
Pantai Menganti ini termasuk dalam jajaran laut selatan. Bersebelahan dengan Pantai Ayah, dan Pantai Karangbolong. Dan pantai selatan terkenal akan keganasan ombaknya yang besar disamping kondisi pantai yang juga curam. Karenanya jarang para wisatawan yang diperbolehkan mandi-mandi di pantai dan lautnya.

pantai menganti
pantai menganti

Setelah puas berfoto ria dan menikmati indahnya Pantai Menganti perjalanan yang berkelakkelokpun kami lanjutkan. Naik gunung, turun gunung menikmati pemandangan alam pedesaan dan pegunungan yang tak pernah kami jumpai di Jakarta.

Kami menuju ke Pantai Ayah dan menikmati seafood enak disana..

Nantikan di Part 2 yaa...^_^

Share on Google Plus

About Yannti Basuki

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Post a Comment